Goa – Goa

Menikmati dan mensyukuri keindahan alam, bisa menjadi obat penghilang stres. Wisata alam menjadi pilihan ketika semangat untuk susur alam sudah tak terbendung lagi. Di Bantul, selain ketenaran pantai Parangtritis dan makam raja Imogiri, masih ada objek wisata goa yang tak kalah menarik.Terletak di dusun Srunggo, Selopamioro, Imogiri atau tepatnya 22 Km dari Yogya bertengger Goa Cerme yang menurut sejarahnya adalah tempat pertemuan dari para Wali. 

Ditilik dari namanya, Goa Cerme berasal dari kata Carame (ceramah atau dakwah). Makin dikuatkan dengan bagian dalam goa yang penamaannya menggunakan istilah Islam. Butuh waktu sekitar dua jam untuk menyusuri goa sepanjang 1.200 meter ini.

Masuk lewat dusun Srunggo, keluar dari goa sudah menginjakkan kaki di dusun Ploso, Giritirto, Panggang Gunungkidul. Meski hampir seluruh ruangan dalam Goa Cerme gelap namun pemandangan eksotiknya masih tetap bisa dinikmati.Sebab pemandu wisata dari desa setempat telah menyediakan alat penerangan sederhana, seperti lampu petromak dan senter.

Menurut salah satu pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Goa Cerme, Udin, semula terdapat sekitar 40 orang pemandu. Namun pasca gempa bumi 27 Mei 2006 lalu, berkurang jadi 20 orang. Goa Cerme juga tak luput dari goncangan gempa namun hanya menimpa 2 buah gardu pandang serta mushola.

”Kerusakan bangunan akan diperbaiki setelah musim hujan karena menunggu pergerakan tanah stabil. Meski begitu saat Lebaran juga menjadi kunjugan wisata,” ucapnya.

Lebih dalam menyusuri goa ini, alurnya yang berkelok-kelok dan dihiasi stalagtit dan stalagmit begitu menggoda. Aliran air yang jernih dan di beberapa tempat mencapai kedalaman satu meter, surga bagi yang berhobi susur goa. Terlebih saat kaki menyentuh dinginnya air penat dan stres akibat kerja perlahan hilang. Namun pada musim kemarau ini debit air di dalam goa sedikit menurun dari biasanya.

Sepanjang perjalanan menyusuri lorong goa, mulai dari pintu masuk pengunjung akan menjumpai bekas panggung pertemuan, air Zamzam, mustaka, air suci, watu kaji, pelungguhan (paseban), kahyangan, grojogan sewu, air panguripan. Selanjutnya gamelan, batu gilang, lumbung padi, gedung sekakap, kraton, panggung, goa lawa dan watu gantung, kemudian sampai di pintu keluar.

Sumber air bernama air Zamzam (150 m), Mustaka (175 m), goa Pandu (300 m), Air Suci (400 m), Watu Kaji (400 m), goa Paseban (500 m) dan Kenthongan (500 m). Untuk mendapatkan air Zamzam di Goa Cerme tidak terlalu sulit, yakni di kedalaman sekitar 150 meter dari mulut goa.

Pengunjung bisa mengambil air tersebut dalam bongkahan stalagmit berbentuk cekung. Mirip cawan raksasa berdiameter sekitar 100 Cm.Lebih ke dalam lagi (500 m dari mulut goa) terdapat sebuah tempat lapang berukuran 3 X 3 meter atau yang dikenal dengan goa Paseban.

Goa yang dilengkapi stalagtit mirip kenthongan ini menurut riwayatnya dulu digunakan para Wali sebagai tempat pertemuan.

Goa Selarong
Masih di Bantul, Goa Selarong selain dikenal sebagai objek wisata alam, dulunya dikenal sebagai pusat penghasil buah jambu biji. Sekitar tahun 1980-an, nama Goa Selarong memang identik dengan jambu biji. Sebab saat itu disekitar goa hampir semua lahan ditanami jambu biji oleh warga setempat. Namun kini jambu itu tak lagi menjadi ciri khas Goa Selarong menyusul matinya pohon-pohon jambu biji yang ada.

Walau demikian, kawasan objek wisata ini tetap memiliki pemandangan alam yang indah serta cocok untuk kegiatan Pramuka, camping dan jelajah alam. Di masa lampau goa ini digunakan sebagai markas gerilya Pangeran Diponegoro dalam perjuangannya melawan penjajahan Belanda pada tahun 1825-1830. Konon, Pangeran Diponegoro pindah ke Goa Selarong setelah rumahnya di Tegalrejo diserang dan dibakar habis oleh Belanda.

Ia dan keluarga serta pengikutnya bersembunyi di goa tersebut. Ada dua goa yang dijadikan tempat tinggal Pangeran Diponegoro, satu goa untuk keluarga Pangeran Diponegoro dan satu lagi untuk pengikutnya.Goa Selarong berlokasi sekitar 14 km arah barat daya Kota Yogyakarta tepatnya di Kalurahan Guwosari Kecamatan Pajangan.

Lokasinya di puncak bukit yang ditumbuhi banyak pohon jambu biji yang merupakan khas dari objek tersebut. Di sekitar GoaSelarong terdapat sentra kerajinan kayu yang menghasilkan patung, topeng dan lain-lain.

Pemerintah Kabupaten Bantul sedang mengembangkan kawasan Goa Selarong sebagai objek agrowisata dengan tanaman klengkengnya.

Goa Jepang
Selain Goa Cerme dan Selarong, Kabupaten Bantul juga memiliki goa lain yang cukup potensial dijadikan objek wisata. Goa ini memang belum banyak dikenal orang meski letaknya tak jauh dari Pantai Parangtritis. Namanya Goa Jepang, yang konon merupakan bunker pertahanan Jepang pada masa Perang Dunia II. Goa yang masuk wilayah Dusun Ngreco dan Poyahan, Desa Seloharjo, Kecamatan Pundong, merupakan peninggalan Perang Dunia II. Sebagai sarana pertahanan militer di zaman Jepang pada tahun 1942-1945, terutama setelah Jepang mempertahankan diri dari sekutu di Indonesia .

Goa Jepang ini dibuat untuk memenuhi keperluan perang gerilya. Sebab militer Jepang memperkirakan, tentara sekutu akan datang melewati laut selatan dan mendarat di sekitar Pantai Parangtritis.

Di dalam goa ini ada 18 bangunan bunker yang sebagian besar masih dalam keadaan utuh. Bentuk bunker tersebut beranekaragam, serta mempunyai fungsi yang berlainan pula. Misalnya sebagai tempat pengintaian, ruang tembak, ruang pertemuan, gudang dan dapur.

Ketebalan dinding rata-rata 50-70 cm, dari bahan beton bertulang, semen dan batu padas yang sudah tersedia di sekitarnya. Bunker-bunker tersebut dibangun saling berdekatan (30 m), serta dihubungkan dengan parit perlindungan yang berada di luar setinggi sekitar 1 m.

Pegunungan Sewu
Berbagai goa alam pun bisa ditemui di kawasan karst (kapur -red) di Pegunungan Sewu di Kabupaten Gunungkidul. Wilayah seluas 13 ribu km2 ini terbentuk oleh proses pelarutan batuan kapur. Terbentang sampai ke kawasan Wonogiri (Jawa Tengah) dan Pacitan (Jawa Timur).

Selain keunikan tiada duanya berupa kerucut karst (conical limestone) yang jumlahnya sekitar 4.000 buah, kubah (doline) dan lembah (poltje), juga goa-goanya. Lengkap dengan stalagtit dan stalagmit, serta sungai di bawah tanah. Goa Cerme, Seropan, Bribin, Grubug, Jomblang dan Kalisuci, sering dijadikan ajang susur Goa(caving) oleh para pecinta alam.

Sedangkan Goa Rancang Kencono, Goa Braholo dan Goa Maria Tritis, merupakan goa yang menjadi objek wisata sejarah dan religius.Sejumlah arkeolog Indonesia yang pernah melakukan penelitian ke sana menyebutkan, sekitar 4.000 tahun lampau, banyak goa di Kabupaten

Gunungkidul yang merupakan bekas hunian manusia purba. Seperti di Song Tritis dan juga Goa Braholo. Anggapan seperti ini diperkuat dengan penemuan artefak budaya megalitikum dan peti kubur berbagai ukuran dan bentuk di kawasan karst wilayah Desa Munggur, Sukoliman, dan Gunung Bang. Usia benda-benda pra-sejarah ini diperkirakan sekitar 2.000 tahun.

Terancam Penambangan
Sehingga selain sebagai ajang wisata dan olahraga alam, goa-goa di kawasan karst juga merupakan aset riset ilmiah.Namun demikian, hal ini ternyata harus berbenturan dengan kepentingan ekonomi, khususnya penambangan batu karst. Seperti di Goa Lawa yang telah menjadi sasaran penambangan.

Pihak Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gunungkidul beberapa waktu lalu pun mengakui, pemanfaatan goa sebagai objek wisata memang belum maksimal. Apalagi seluruh goa di Gunungkidul yang telah teridentifikasi sebanyak 119 goa! Menyebar di tujuh kecamatan, dan empat sungai bawah tanah.

Instansi itu masih berupaya menggabungkan daya tarik wisata goa dengan objek wisata sungai bawah tanah. Dalam mendayagunakan objek wisata ini, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Gunungkidul memerlukan keterpaduan dengan aspek keilmuan untuk menghasilkan objek wisata ilmiah.

Posted in Artikel Indonesia | Leave a comment

Tutorial Panjat Tebing

Bagi pemula yang belum pernah manjat tebing/ dinding sama sekali, akan terasa sangat canggung saat pertama kali manjat. Semua ini normal dan secara psikologis biasa-biasa saja. Saat inilah kamu berpikir tentang apa aja yang diperlukan untuk manjat seperti gimana menggapai satu pegangan, gimana mindahin pijakan kaki, gimana mentransfer berat badan tanpa terayun jatuh dll.

Semua pemanjat mengalami hal ini. Seperti halnya ingatan, otot-otot kita juga perlu dilatih untuk mengingat gerakan-gerakan yang diperlukan untuk melakukan aktivitas tertentu. Contohnya saat belajar naik sepeda atau berenang, setelah tubuh hapal akan gerakan tersebut akan sangat mudah kita melakukannya lagi dilain kesempatan.

Kemampuan mengingat akan gerak ini disebut engram. Kalo waktu belajar kamu melakukan gerakan yang salah dalam mengeksekusi tehnik tertentu maka untuk kedepannya akan lebih susah lagi untuk memperbaiki tehnik itu karena hapalan gerak yang salah harus di hapus dari otak kita dan kita harus mulai dari awal lagi untuk melatih tehnik tsb dengan benar. Itulah alasan kenapa latihan tehnik yang benar perlu dilakukan sedini mungkin.

Kenapa kita harus belajar tehnik? Soalnya untuk melatih kekuatan perlu waktu yang lama. Sebagian pemanjat punya anggapan bahwa & Tehnik cuma untuk orang yang lemah. Mereka adalah pemanjat-pemanjat yang latihan siang dan malam untuk meningkatkan kekuatan mereka khususnya otot tangan dan jari-jarinya biar hebat seperti baja dan bisa pull-up satu tangan atau bahkan satu jari.

Kalo kita udah sering berlatih tehnik dan manjat secara teratur tanpa disadari kekuatan jari, tangan, otot perut dan daya tahan akan sangat meningkat. Kombinasi dari tehnik yang manjur dan kekuatan yang lumayan bakal bikin pemanjatan keliatan indah, mudah dan membuat penonton kagum. Tehnik dulu, kekuatan bakal nyusul dengan sendirinya.

Karena kita pemanjat pemula dan enggak bisa dibandingin dengan Chris Sharma atau Dave Graham, latihan tehnik sudah harus menjadi fokus kita untuk menjadi pemanjat yang lebih baik.

Kelenturan tubuh menunjang sekali penguasaan tehnik. Kamu enggak perlu lentur banget kayak tukang akrobat dari China, asalkan tubuh kamu enggak kaku banget kamu bakal bisa belajar tehnik dengan memuaskan. Supaya tubuh enggak kaku, lakukan pemanasan dan kemudian kelenturan/ stretching. Kalo saya pribadi biasanya langsung melakukan pemanjatan traverse/ menyamping dengan tingkat kesulitan yang super mudah untuk pemanasan, sebelum dilanjutkan dengan rute panjang dan melelahkan.

5 Komponen Dasar Panjat Tebing

Seperti halnya jenis olah raga lain, Panjat Tebing memerlukan tingkat fisik dan mental yang baik. Satu hal yang mungkin perlu diingat yaitu bahwa dari satu sisi panjat tebing terlihat sebagai satu olah raga yang bersifat mental, karena untuk menyelesaikan satu rute/problem kamu harus membuat strategi penyelesaian masalah (problem solving) dengan kombinasi tehnik yang baik. Disisi lain karena posisi pemanjat yang menggantung dan arah gerak/posisi tubuh yang berlawanan dengan daya gravitasi mereka perlu otot yang enggak lembek, yang ini lebih bersifat fisik.

Kita mengkategorikan komponen dasar ini kedalam dua aspek:

  1. Komponen Fisik
  2. Komponen Non Fisik

Yang termasuk kedalam komponen fisik yaitu:

Kekuatan

Jangan menganggap bahwa kekuatan yang dimaksud disini yaitu sekedar kekuatan tangan. Pemanjat enggak manjat cuma dengan tanggannya mereka pake kaki, pake badan dan yang penting lagi mereka juga pake otak bo. Kekuatan ini cakupannya menyeluruh termasuk kekuatan tangan dan kaki (limp strength) dan kekuatan tubuh (core strength) yaitu perut, dada, punggung dan pinggang. Kekuatan ini sangatlah diperlukan ketika kamu mulai beranjak ke tingkat mahir yang biasa dimulai dengan pemanjatan dengan kesulitan rute 5.11 keatas.

Daya Tahan

Daya tahan artinya kemampuan kamu untuk memanjat rute yang panjang tanpa terlalu banyak berhenti/ istirahat. Tentunya ini sangat mendominasi para pemanjat multi pitch. Training untuk ini jarang sekali dilakukan pada rute dengan kesulitan tingkat tinggi karena jika demikian maka akan cenderung ke training kekuatan dan bukannya daya tahan. Cukup dimulai dengan rute mudah dan terus dilanjutkan ke rute-rute yang tidak terlalu sulit untuk sekitar 15 menit sampe 45 menit (pemula) tanpa diselingi istirahat.

Kelenturan

Meskipun wanita pada umumnya tidak sekuat pria, biasanya mereka lebih menonjol dalam bidang ini. Kelenturan bisa sangat menentukan apakah seseorang pemanjat dapat menyelesaikan satu rute tertentu atau tidak, karena itu janganlah disepelekan. Selalu lakukan pemanasan kemudian melenturkan tubuh (stretching) sebelum kamu memanjat. Kombinasi kelenturan dan kekuatan akan menjadikan alur gerak (fluidity) si pemanjat tampak indah, mudah (padahal sebetulnya sulit) dan mengesankan.

Sedangkan komponen non fisik yaitu:

Mental dan Sikap

Yang dua ini harus selalu positif. Keadaan mental kamu akan menjelma menjadi sikap yang mempengaruhi berhasil atau tidaknya suatu pemanjatan. Alasan-alasan seperti aku kayaknya enggak bisa, aku udah cape, rutenya bukan tipeku, rutenya untuk pemanjat yang badannya tinggi/ pendek dll merupakan contoh ketidak siapan mental. Hadapi semua rute/ problem dengan ucapan ” Saya akan coba sebaik mungkin!” Kalo kamu jatoh/ gagal coba lagi dan coba lagi, disinilah proses belajar memanjat tebing menuju kesempurnaan sampai kamu akhirnya berhasil menyelesaikan rute tsb tanpa jatuh.

Tehnik

Tehnik ini jangkauannya umum, bisa termasuk gabungan dari komponen fisik diatas. Namun kalo kita bicara tehnik biasanya enggak secara langsung berhubungan dengan otot karena itu saya kategorikan komponen ini ke non fisik. Tehnik ini didapat dari proses belajar yang enggak sebentar, makanya untuk belajar tehnik dengan cepat dan baik belajarlah langsung dari pemanjat pro yang sudah berpengalaman. Mereka biasanya bisa langsung menunjukan kelemahan dan kekurangan pemanjatan kamu.

Kadang untuk belajar tehnik ini kamu harus melakukan gerakan-gerakan yang sama secara terus menerus sampai tubuh kamu hafal betul untuk mengeksekusi gerak tsb (biasa disebut engram: daya ingat tubuh dalam melakukan gerakan/posisi tertentu). Tehnik cakupannya luas termasuk keseimbangan dan perpindahan berat badan, posisi, pernafasan, gerak dinamik dan statik dll.

Tehnik Dasar yang Umum

  1. Pertahankan 3 titik kontak. 2 tangan dan 2 kaki total semuanya jadi 4 kontak. Waktu kamu manjat usahakan 1 kontak mencari pegangan atau pijakan dan 3 lainnya tetap menempel pada tebing. Dengan cara ini kamu enggak bakal cepet cape.
  2. Usahakan tangan selalu lurus ( jangan membengkokan siku). Waktu meraih pegangan tangan setinggi apapun segera jatuhkan badan kamu dengan menekuk kedua lutut dan meluruskan tangan. Kalo kamu terus2an membengkokan siku waktu manjat dan mencengkram dengan keras dijamin tangan kamu cepet lemes. Dengan tangan lurus sebagian beban tubuh ditunjang oleh otot bahu dan dada jadinya lebih enteng.
  3. Manjat dengan kaki dan bukan tangan. Karena kaki lebih kuat maka sering2lah mendorong vertikal dengan kaki kamu bukannya menarik vertikal dengan tangan kamu.

Dalam penguasaan tehnik kita juga harus familiar dengan medan tempur. Jenis bebatuan tebing akan sangat menentukan tehnik apa yang kita perlukan agar bisa manjat kepuncak dengan mulus. Tebing dan bebatuanlah yang bakal mendikte kita dan memaksa kita untuk begini dan begitu.

Proses inilah yang membuat pemanjat tebing dan seorang pelaku boulder (pemanjat batuan besar) bersahabat dengan alam. Makanya selain kita harus tau nama dari tehnik itu sendiri kita juga harus mengenal nama dari bentuk pegangan/ pijakan yang bakalan dipake. 

Sumber : Cartenz Piramid Author: Hengky

Posted in Artikel Indonesia | Leave a comment

Daftar Goa di Gunung Kidul

Goa-goa wisata di Kabupaten Gunung Kidul

1. Sigolo golo : terletak di Giricahyo Purwosari

2. Langse : terletak di Giricahyo Purwosari

3. Complong : terletak di Giricahyo Purwosari

4. Jlamprong : terletak di Giricahyo Purwosari

5. Kesirat : terletak di Girikarto Panggang

6. Tapan : terletak di Girijati Purwosari

7. Suci : terletak di Girijati Purwosari

8. Dagang : terletak di Girijati Purwosari

 9. Gebangtinatar : terletak di Giritirto Purwosari

10. Sumurup : terletak di Giritirto Purwosari

11. Kaligede : terletak di Giritirto Purwosari

12. Ploso : terletak di Giritirto Purwosari

13. Cerme : terletak di Giritirto Purwosari

14. Banyaksogo : terletak di Giripurwo Purwosari

15. Cikal : terletak di Girisekar Panggang

16. Watukebo : terletak di Girisekar Panggang

17. Gebang Girisoka Panggang

18. Banteng : terletak di Krambilsawit Saptosari

19. Ngobaran : terletak di Kanigoro Saptosari

20. Rancang Kencono : terletak di Playen

21. Nogosari : terletak di Bleberan Playen

22. Dengok : terletak di Dengok Playen

23. Mariatritis : terletak di Giring Paliyan

24. Grengseng : terletak di Kemadang Tanjungsari

25. Nguluran : terletak di Banjarejo Tanjungsai

26. Kedokan : terletak di Sumberwungu Tepus

 27. Slili : terletak di Sidoharjo Tepus

28. Sundak : terletak di Sidohajo Tepus

29. Toto : terletak di Ngeposari Semanu

30. Semuluh : terletak di Ngeposari Semanu

31. Ngreneng : terletak di Ngeposari Semanu

32. Ngrancah : terletak di Candirejo Semanu

33. Bribin : terletak di Dadapayu Semanu

34. Kalisuci : terletak di Pacarejo Semanu

35. Wotlemah : terletak di Pacarejo Semanu

36. Gedilan : terletak di Pacarejo Semanu

37. Kecimut : terletak di Semanu Semanu

38. Grubug : terletak di Jetis Semanu

39. Ceblog : terletak di Pucunganom Rongkop

40. Braholo : terletak di Rongkop

41. Ngricik : terletak di Melikan Rongkop

42. Pindul : terletak di Bejiharjo Karangmojo

43. Gelaran : terletak di Bejiharjo Karangmojo

 44. Seropan : terletak di Gombang Ponjong

 45. Gremeng : terletak di Umbulrejo Ponjong

46. Lowo : terletak di Umbulrejo Ponjong

47. Songgilap : terletak di Kenteng Ponjong

48. Paesan : terletak di Tambakromo Ponjong

49. Gadung : terletak di Pundungsari Semin

 50. Pari : terletak di Karangtengah Wonosari

51. Bening : terletak di Karangtengah Wonosari

52. Ngingrong : terletak di Mulo Wonosa

Posted in Artikel Indonesia | Leave a comment

Styles of rock climbing

“Balung (Bagian Alam & Gunung)”

Top roping Balthazar (12), in the Morialta Conservation Park near Adelaide, South Australia. Top roping is the most accessible style of climbing for beginners.

Most of the climbing done in modern times is considered free climbing—climbing using one’s own physical strength with equipment used solely as protection and not as support—as opposed to aid climbing, the gear-dependent form of climbing that was dominant in the sport’s earlier days. Free climbing is typically divided into several styles that differ from one another depending on the equipment used and the configurations of their belay, rope, and anchor systems (or the lack thereof).

 

  • Aid Climbing – Still the most popular method of climbing big walls. Progress is accomplished by repeatedly placing and weighting gear which is used directly to aid ascent and enhance safety.
  • Traditional climbing – Traditional or Trad Climbing involves rock climbing routes that do not have permanent anchors placed to protect climbers from falls while ascending. Gear is used to protect against falls but not to aid the ascent directly.
  • Sport Climbing – Unlike Traditional Rock Climbing, Sport Climbing involves the use of protection or permanent anchors which are attached to the rock walls.
  • Bouldering – Climbing on short, low routes without the use of the safety rope that is typical of most other styles. Protection, if used at all, typically consists of a cushioned bouldering pad below the route and/or a spotter, a person who watches from below and directs the fall of the climber away from hazardous areas. Bouldering may be an arena for intense and relatively safe competition, resulting in exceptionally high difficulty standards.
  • Free climbing – The most commonly used method to ascend climbs refers to climbs where the climber’s own physical strength and skill are relied on to accomplish the climb. Free climbing may rely on top rope belay systems, or on lead climbing to establish protection and the belay stations. Anchors, ropes, and protection are used to back up the climber and are passive as opposed to active ascending aids. Subtypes of free climbing are trad climbing and sport climbing. Free climbing is generally done as “clean lead” meaning no pitons or pins are used as protection.[2]
  • Free soloing (not to be confused with free climbing) is single-person climbing without the use of any rope or protection system whatsoever. If a fall occurs and the climber is not over water (as in the case of deep water soloing), the climber is likely to be killed or seriously injured. Though technically similar to bouldering, free solo climbing typically refers to routes that are far taller and/or far more lethal than bouldering. The term “highball” is used to refer to climbing on the boundary between soloing and bouldering, where what is usually climbed as a boulder problem may be high enough for a fall to cause serious injury and hence could also be considered to be a free solo.
  • Solo aid – Free soloing in which the climber wears a harness and a carries limited protection but doesn’t use a rope. The climber may free solo or scramble much of the route but use protection only where safety demands it. Doing so involves placing gear overhead which is then attached to the climber via a short length of cord to his or her harness. The climber then climbs above the protection and reaches down to remove the gear before proceeding- possibly after placing another protection point and attaching to it via a second loop of cord. This “leap frogging” or “boot strapping” technique is akin to gear conservation techniques that may be used in traditional climbing. Solo aid may or may not use gear to directly assist ascent.

Indoor Climbing

  • Indoor Climbing – With indoor rock climbing you can train year round and improve your climbing skills and techniques. Indoor climbing is great for beginners because it gives you an idea of what it’s like to climb actual rocks outdoors.
  • Scrambling – Scrambling basically uses hands and feet when going up ridges, rock faces, or buttresses. Scrambling differs from “technical” climbing: in terms of the terrain grade in the Yosemite decimal system scrambling is possible on anything less than fifth class. Most scrambling is done in a “free solo” style. However, it is not uncommon for climbers to use ropes and protection on an exposed climb that is technically considered a scramble.
  • Deep Water Soloing – Similar to free soloing in that the climber is unprotected and without a rope, but different in that if the climber falls, it is into deep water instead of on to the ground. Deep water soloing over salt water reduces the life of climbing shoes.
  • Mixed climbing – A combination of ice and rock climbing, often involving specialized ice climbing slippers and specialized ice tools.
  • Rope soloing – Solo climbing with a rope secured at the beginning of the climb allowing a climber to self-belay as they advance. Once the pitch is completed the soloist must descend their rope to clean their gear and reclimb the pitch. This form of climbing can be conducted free or as a form of aid climbing.
  • Simul climbing – When two climbers move at the same time. The pseudo-lead climber places gear that the pseudo-follower collects. When the leader runs low on gear they construct a belay station where the follower can join them to exchange gear. The stronger climber is often the pseudo-follower since a fall by the follower would pull the leader from below towards the last piece of gear—a potential devastating fall for the leader. In contrast, a fall from the leader would pull the follower from above, resulting in a less serious fall. Most speed ascents involve some form of simul climbing but may also include sections of standard free climbing and the use of placed gear for advancement (i.e. partial aid or pulling on gear).

Top roping

Top roping – Climbing with the protection of a rope that’s already suspended through an anchor (or also known as a “Top Rope System”) at the top of a route. A belayer controls the rope, keeping it taut, and prevents long falls. Most Indoor climbing or “gym climbing” is top roping on indoor purpose-made climbing walls although it is also common to boulder and sport climb indoors. Gym climbing is used as training for outside climbing, but some climb indoors exclusively. Due to its simplicity and reduced risk, most beginners are introduced to climbing through top-roping.

Posted in Artiker English | Leave a comment

Sekilas Survival – Tindakan Pada Situasi Survival

 

Survival adalah tindakan yang paling awal bagi makhluk hidup untuk mempertahankan hidupnya dari berbagai ancaman.
Survive berarti mampu bertahan hidup dan lolos dari kondisi tidak menentu.

Survivor adalah individu atau sekelompok orang yang berusaha mempertahankan hidup pada kondisi tidak
menentu yang tidak dapat diduga sebelumnya.

Kepanjangan SURVIVAL :
S : Sadarilah dimana kamu berada
U : Untung rugi ada di tangan sendiri
R : Rasa takut dihilangkan
V : VIVA, hargailah hidup
I : Ingatlah dimana kamu berada
V : VACUM, isilah kekosongan
A : Adat istiadat dihormati dan dijaga
L : Latihlah dirimu selalu

Penyebab seseorang melakukan survival :
1. Kehabisan kelengkapan dari suatu perjalanan
2. Kecelakaan dalam suatu perjalanan
3. Tersesat di suatu daerah asing
4. Lingkungan suatu daerah yang belum dikenal
5. Kekurangan pangan, kekurangan oksigen, dan lain-lain

Dalam menghadapi situasi yang sulit berusahalah untuk tenang, istirahatlah yang cukup, perhatikan kondisi tubuh
dan ingatlah pedoman :
S : Stop, berhenti
T : Thinking, mulailah berpikir
O : Observe, amati keadaan sekeliling
P : Planning, buat rencana mengenai tindakan / usaha yang akan dilakukan

Tindakan yang dilakukan dalam situasi survival :
1. Mencari Tempat Berlindung
Kenyamanan tempat berlindung dapat mempengaruhi kondisi survivor.
Hal- hal yang harus diperhatikan dalam mencari dan membangun tempat berlindung atau Bivoac :
1. Di atas tanah yang padat dan tidak berlumpur
2. Jangan berada di dekat pohon yang lapuk
3. Jangan di daerah lintasan binatang
4. Usahakan menghindari hembusan angin secara langsung terutama daerah tikungan
5. Usahakan dekat dengan sumber air
6. Perhatikan keadaan medan, seperti tanah longsor,dan lain-lain
7. Jangan bermalam di sungai kering

2. Mencari Air / Minum
Yang harus diperhatikan dalam mencari air :
1. Warna, jika warnanya jernih / bening dan airnya mengalir, air tersebut dapat langsung diminum.Jika air sudah berbau dan warnanya gelap walaupun mengalir, air tersebut tidak dapat diminum karena mengandung unsur logam.
2. Temperatur, jika di daerah gunung berapi, sumber air terasa panasmaka jangan diminum karena mengandung kadar belerang tinggi, tetapi kalau airnya dingin bisa digunakan untuk memasak.
3. Asin, jangan terlalu banyak minum air yang mengandung garam, mengingat akan sifat garam yang akan menarik keluar air atau cairan di dalam tubuh (dehidrasi).

3. Mencari Makanan
Di saat seorang survivor sudah tidak memiliki persediaan makanan lagi, maka Ia harus mencari makanan yang berada di sekitarnya. Makanan tersebut dapat berupa tumbuhan maupun binatang, Tetapi tidak semua tumbuhan dan hewan dapat kita makan.
Yang harus diperhatikan dalam mencari makanan :
1. Menjilat, jika terasa asing dilidah tumbuhan atau buah terebut tidak dapat dimakan.
2. Melihat warna, jika warnanya terlalu menyolok jangan dimakan.
3. Dengan mengolesnya di kulit, apabila menimbulkan rasa panas atau gatal maka tumbuhan atau buah tersebut sebaiknya jangan dimakan.
4.Tumbuhan yang hidup terisolir biasanya beracun
5.Dapat mengikuti apa yang dimakan oleh burung dan binatang menyusui lainnya serta jenis rodentsia seperti tikus, marmut, atau musang.

4. Membuat Api
Jika anda berada dalam kondisi survive, membuat api juga tidak kalah pentingnya,dikarenakan api bisa untuk menghangatkan tubuh,memasak serta menghindari gangguan dari binatang buas.
Cara-cara membuat api :
1. Bantuan sinar matahari
Pakailah lensa cembung, dimana titik api mengenai bahan penyala api. Lensa dapat berupa kaca pembesar.Lensa dapat berupa kaca pembesar, lensa kamera, lensa teropong, teleskop. Namun hal ini jarang digunakan karena di dalam hutan tropis jarang tertembus sinar matahari kecuali di daerah padang pasir.
2. Gesekan bambu dengan bambu
Bambu penggosok harus lebih panjangdaripada bambu yang akan digosok, yang dipakai bagian kulit luarnya saja. Gosokkan yang berkedudukan vertical menjadi panas dan segera di letakkan bahan penyala api.
3. Batu api
Dengan cara dua buah batu digesekkan sehingga menghasilkan percikan api, Tetapi hal ini jarang digunakan karena menguras tenaga.
4. Busur dan gurdi
Buat busur yang kuat dengan menggunakan tali sepatu atau tali lain, gurdikan kayu keras pada kayu yang lainnya hingga panas dan terlihat asap lalu berikan bahan penyala api, seperti serutan batang kayu, daun kering, dan lain-lain.

Posted in Artikel Indonesia | Leave a comment

Penyebab Kematian Pendaki Gunung

Mendaki gunung merupakan kegiatan yang cukup banyak peminatnya sekarang. Kegiatan alam bebas ini memang menjanjikan kenikmatan. Kenikmatan yang bahkan sampai sekarang hanya mereka yang berhasil mendaki sampai ke puncak yang tahu.

“Because it is up there..” ujar salah seorang pendaki terkenal Inggris untuk menggambarkan kenikmatan itu.

Bagi pendaki gunung sejati, kenikmatan mencapai puncak gunung sangat sulit digambarkan dengan kata-kata. Yang jelas mendaki gunung adalah kegiatan yang menyenangkan dan relatif mudah dilakukan. Tidak seperti arung jeram, panjat tebing atau menyelam, dimana diperlukan keahlian khusus.

Kegatan ini juga menjanjikan kesenanganan karena dapat meyaksikan keindahan dan keagungan alam pegunungan. Namun hati-hati, dibalik keindahannya, gunung juga menyimpan bahaya bagi para pendaki. Sejak 1492 saat pendakian gunung pertama kali dilakukan manusia hingga sekarang, sudah ratusan bahkan mungkin ribuan orang tewas di atas gunung.

Banyak faktor yang membuat mereka gagal lalu tewas baik ketika sedang mendaki atau menuruni gunung. Faktor-faktor apa saja yang biasanya menjadi penyebab?

1. Fisik Dan Mental

Ketidaksiapan fisik dan mental menjadi faktor yang cukup tinggi sebagai penyebab kematian para pendaki gunung. Fisik dan mental yang lemah jelas-jelas menjadi mangsa empuk alam gunung yang liar. Apalagi jika mendaki gunung yang ketinggiannya lebih dari 4000 meter dimana oksigen begitu tipisnya. Meski sekarang ada alat bantu oksigen tetapi jika fisik lemah, alat bantu itu hampir seperti tak ada artinya. Mental pun demikian. Orang-orang yang mendaki gunung diharuskan memiliki mental pantang menyerah, bersikap tenang dan tidak mudah panik. Ingat, alam liar pegunungan tidak pernah menoleransi kekurangan-kekurangan itu. Maka persiapkan fisik dan mental Anda sebaik mungkin.

2. Kurang Pengetahuan

Pengetahuan tentang gunung yang akan didaki adalah mutlak. Banyak pendaki remaja atau pemula yang tewas di gunung karena minimnya pengetahuan. Pengetahuan ini meliputi banyak hal, seperti pengetahun tentang tinggi gunung, karakteristik cuaca, pengetahuan tentang flora dan fauna yang biasa hidup di pegunungan, pengetahuan tentang tempat-tempat berbahaya di atas gunung hingga pengetahuan tentang tindak penyelamatan

3. Cuaca Buruk

Cuaca diatas pegunungan sangat sulit ditebak, bahkan terkadang meski saat itu musim kemarau bisa saja di atas gunung turun hujan lebat. Cuaca buruk memang tidak menjadi penyebab langsung kematian, tetapi efek yang ditimbulkannya kerap menjadi penghalang pendakian. Seperti jalan menjadi becek dan licin atau udara begitu menjadi begitu dingin.

4. Tersesat

Banyak juga pendaki gunung yang mengalami tersesat. Ini bisa saja terjadi karena mungkin mereka terpisah dari rombongan, mencoba jalur baru atau bahkan disebabkan oleh kesalahan sepele, tidak membawa kompas. Saat orang mengalami tersesat dimana biasanya mereka selalu berputar-putar ke tempat yang sama, mereka akan mengalami disorientasi, bingung, kalut tanpa persediaan makanan yang cukup. Saat itulah maut mengintip.

Posted in Artikel Indonesia | Leave a comment

Pendaki Gunung dan Pecinta Alam

Pada tahun 1492 sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 m), dikawasan Vercors Massif. Saat itu belum jelas apakah mereka ini tergolong penDaki gunung pertama. Namun beberapa dekade kemudian, orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di Pegunungan Alpen adalah para pemburu chamois, sejenis kambing gunung. Barangkali mereka itu pemburu yang menDaki gunung. Tapi inilah penDakian gunung yang tertua pernah dicatat dalam sejarah.

Di Indonesia, sejarah penDakian gunung dimulai sejak tahun 1623 saat Yan Carstensz menemukan “Pegunungan sangat tinggi di beberapa tempat tertutup salju” di Papua. Nama orang Eropa ini kemudian digunakan untuk salah satu gunung di gugusan Pegunungan Jaya Wijaya yakni Puncak Cartensz.

Pada tahun 1786 puncak gunung tertinggi pertama yang dicapai manusia adalah puncak Mont Blanc (4807 m) di Prancis. Lalu pada tahun 1852 Puncak Everest setinggi 8840 meter ditemukan. Orang Nepal menyebutnya Sagarmatha, atau Chomolungma menurut orang Tibet.

Puncak Everest berhasil dicapai manusia pada tahun 1953 melalui kerjasama Sir Edmund Hillary dari Selandia Baru dan Sherpa Tenzing Norgay yang tergabung dalam suatu ekspedisi Inggris. Sejak saat itu, penDakian ke atap-atap dunia pun semakin ramai.

Di Indonesia sejarah pecinta alam dimulai dari kampus pada era tahun 1970-an. Pada saat itu kegiatan politik praktis mahasiswa dibatasi dengan keluarnya SK 028/3/1978 tentang pembekuan total kegiatan Dewan Mahasiswa dan Senat Mahasiswa yang melahirkan konsep Normalisasi Kehidupan Kampus (NKK). Para mahasiswa itu, diawali dengan berdirinya Mapala Universitas Indonesia di era yang sama, membuang energi mudanya dengan merambah alam mulai dari lautan sampai ke puncak gunung.

Kalau kita menilik asal katanya, ‘Pecinta’ artinya orang yang mencintai, dan alam dapat diartikan segala sesuatu yang ada di sekitar kita. Kalau kita perjelas lagi, alam berarti benda hidup maupun benda tak hidup, yang ada di dunia ini. Udara, tanah, dan air merupakan bagian dari alam. Demikian pula dengan tanaman, hewan, dan manusia, mereka termasuk bagian dari alam ini. Jadi, jelas bahwa diri kita sendiri merupakan bagian dari alam semesta ini. Lalu dapatkah kita mengatakan bahwa Pecinta Alam adalah orang yang mencintai alam semesta beserta isinya, termasuk dirinya sendiri? Bagaimana pula dengan mereka yang memiliki hobby bertualang di alam bebas? Dapatkah mereka kita sebut Pecinta Alam? Tampaknya memang ada kerancuan makna dalam istilah “Pecinta Alam” tersebut: antara mereka yang mencintai alam (lingkungan) dengan mereka yang gemar berpetualang di alam bebas. Sebagai pembanding, di Eropa dan Amerika ada suatu terminologi yang jelas bagi mereka yang berkecimpung dalam dunia kepecintaalaman, misalnya envi-ronmentalist (pecinta lingkungan hidup: Green Peace), naturlist (pecinta alam seperti sebagaimana adanya), adventure (petualangan/penjelajah), mountaineers, outdoor sports/activities.

Oleh karena itu, mungkin akan lebih tepat bila dikatakan bahwa Pecinta Alam adalah orang-orang yang mencintai alam beserta segala isinya, dan yang mencintai petualangan alam bebas.

Lalu apakah kita sebagai penDaki gunung bisa disebut sebagai pecinta alam? Jawabannya bisa ya dan tidak . Selama seorang penDaki gunung masih suka buang sampah sembarangan di gunung, corat-coret, petik sana-sini dan melakukan kegiatan tak bertangung-jawab lainnya, rasanya tidak pantas bila disebut sebagai Pecinta Alam. Karena seorang yang mencintai alam akan senantiasa menjaga kelestarian Alam, Bukan Merusaknya………..

Posted in Artikel Indonesia | Leave a comment

Mount Lawu

Climbing the opening of the Cage Cemoro-sloping ramp it up in the post Taman Sari Ngisor. From these points Cemoro Cage Mount Lawu hikers will find several posts such as Taman Sari Nduwur close to the crater cracks.

Continue at many places also post-Arip Ravine Pengarip the narrow path, the right side of the cliff and left a yawning chasm.

Then we will also see the vast plains of Post Cokro Suryo, here there are many gravestones in memory of the climbers who died (killed) while doing the climb on Mount Lawu.

Lawu mountain peaks, there are three very famous. Ie peak 1 (Hargo Dumilah) with a height of 3265 masl. The other peaks that are not less popular, because many of the pilgrims is the top destination 2 (Hargo Dalem).

And the last peak 3 (Hargo Dumiling) that believe as a place pamoksan Ki Sabdo Palon, a follower of King UB Pamungkas.

According to the belief that many developing world, the tomb is in the top Hargo Dalem is the tomb of King Brawijaya Pamungkas. Meanwhile there is also considered as the tomb of Sunan Lawu.

Line down through Cemoro Sewu

Travel down the path it will Cemoro Sewu across several posts. Postal mail that we will meet, among others Sendang Drajat, Well Jolotundo, crater of Mount Lawu, until finally posted three and proceed along a staircase the steps with rocks neatly arranged. Here we will also pass through leafy streets lined with trees Pines.

After it arrived in the post climbing Cemoro Sewu,

Posted in Artiker English | Leave a comment

Gunung Semeru (Mahameru)

Gunung Semeru adalah gunung suci kediaman para Dewa, merupakan gunung tertinggi di pulau Jawa dengan ketinggian 3.676 M dpl (puncak Mahameru). Pada tahun 1913 dan 1946 Kawah Jonggring Saloka memiliki kubah dengan ketinggian 3.744,8 M hingga akhir Nopember 1973. Gunung ini masuk dalam kawasan Taman nasional Bromo Tengger Semeru. Taman Nasional ini terdiri dari pegunungan dan lembah seluas 50.273,3 Hektar. Terdapat beberapa gunung di dalam Kaldera Gn.Tengger antara lain; Gn.Bromo (2.392m) Gn. Batok (2.470m) Gn.Kursi (2,581m) Gn.Watangan (2.662m) Gn.Widodaren (2.650m). Terdapat empat buah danau (ranu): Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo, Ranu Darungan.Diperlukan waktu sekitar empat hari untuk mendaki puncak gunung Semeru pulang- pergi. Sebaiknya membawa bekal untuk satu minggu karena kita akan betah berkemah, bisa jadi karena pemandangan dan suasana yang sangat indah, atau karena kecapaian setelah mendaki gunung semeru.

Untuk mendaki gunung semeru dapat ditempuh lewat kota malang atau lumajang. Dari terminal kota malang kita naik angkutan umum menuju desa Tumpang. Disambung lagi dengan Jip atau Truk Sayuran yang banyak terdapat di belakang pasar terminal Tumpang.

Sebelumnya kita mampir di Gubugklakah untuk memperoleh surat ijin. Dengan menggunakan Truk sayuran atau Jip perjalanan dimulai dari Tumpang menuju Ranu Pani desa terakhir di kaki semeru. Di sini terdapat Pos pemeriksaan, terdapat juga warung dan pondok penginapan. Pendaki juga dapat bermalam di Pos penjagaan. Di Pos Ranu Pani juga terdapat dua buah danau yakni danau (ranu) pani (1 ha) dan ranu regulo (0,75 ha). Terletak pada ketinggian 2.200 mdpl.

JALUR WATU REJENG

Bagi pendaki yang baru pertama kali mungkin akan bingung menemukan jalur pendakian, dan hanya berputar-putar di Ranu Pani, untuk itu setelah sampai di gapura selamat datang, perhatikan terus ke kiri ke arah bukit, jangan mengikuti jalanan yang lebar ke arah kebun penduduk. Selain jalur yang biasa dilewati para pendaki melewati Watu Rejeng, juga ada jalur pintas yang biasa dipakai para pendaki lokal, jalur ini sangat curam dengan melintasi Gunung Ayek-ayek.

Jalur awal yang kita lalui landai, menyusuri lereng bukit yang didominasi dengan tumbuhan alang-alang. Tidak ada tanda penunjuk arah jalan, tetapi terdapat tanda ukuran jarak pada setiap 100m, kita ikuti saja tanda ini. Banyak terdapat pohon tumbang, dan ranting-ranting diatas kepala, sehingga kita harus sering merundukkan kepala, tas keril yang tinggi sangat tidak nyaman.

Setelah berjalan sekitar 5 Km menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi Edelweis, kita akan sampai di Watu Rejeng. Kita akan melihat batu terjal yang sangat indah. Kita saksikan pemandangan yang sangat indah ke arah lembah dan bukit-bukit, yang ditumbuhi hutan cemara dan pinus. Kadang kala kita dapat menyaksikan kepulan asap dari puncak semeru. Untuk menuju Ranu Kumbolo kita masih harus menempuh jarak sekitar 4,5 Km.

Danau ranu KumboloSebaiknya beristirahat dan mendirikan tenda apabila tiba di Ranu Kumbolo. Terdapat danau dengan air yang bersih dan memiliki pemandangan yang sangat indah terutama di pagi hari kita saksikan matahari terbit disela-sela bukit. Banyak terdapat ikan, kadang burung belibis liar. Ranu Kumbolo berada pada ketinggian 2.400 m dengan luas 14 ha.

Dari Ranu Kumbolo sebaiknya menyiapkan air sebanyak mungkin. Meninggalkan Ranu Kumbolo kita mendaki bukit terjal, dengan pemandangan yang sangat indah dibelakang ke arah danau. Di depan bukit kita terbentang padang rumput yang luas yang dinamakan oro-oro ombo. Oro-oro ombo dikelilingi bukit dan gunung dengan pemandangan yang sangat indah, padang rumput luas dengan lereng yang ditumbuhi pohon pinus seperti di Eropa. Dari balik Gn. Kepolo tampak puncak Gn. Semeru menyemburkan asap wedus gembel.

Selanjutnya kita memasuki hutan Cemara dimana kadang-kadang kita jumpai burung dan kijang. Banyak terdapat pohon tumbang sehingga kita harus melangkahi atau menaikinya. Daerah ini dinamakan Cemoro Kandang.

Pos Kalimati berada pada ketinggian 2.700 m, disini kita dapat mendirikan tenda untuk beristirahat dan mempersiapkan fisik. Kemudian meneruskan pendakian pada pagi-pagi sekali pukul 24.00. Pos ini berupa padang rumput luas di tepi hutan cemara, sehingga banyak tersedia ranting untuk membuat api unggun.

Terdapat mata air Sumber Mani, ke arah barat (kanan) menelusuri pinggiran hutan Kalimati dengan menempuh jarak 1 jam pulang pergi. Di Kalimati dan di Arcopodo banyak terdapat tikus gunung bila kita mendirikan tenda dan ingin tidur sebaiknya menyimpan makanan dalam satu tempat yang aman.

Untuk menuju Arcopodo kita berbelok ke kiri (Timur) berjalan sekitar 500 meter, kemudian berbelok ke kanan (Selatan) sedikit menuruni padang rumput Kalimati. Arcopodo berjarak 1 jam dari Kalimati melewati hutan cemara yang sangat curam, dengan tanah yang mudah longsor dan berdebu. Dapat juga kita berkemah di Arcopodo, tetapi kondisi tanahnya kurang stabil dan sering longsor. Sebaiknya menggunakan kacamata dan penutup hidung karena banyak abu beterbangan. Arcopodo berada pada ketinggian 2.900m, Arcopodo adalah wilayah vegetasi terakhir di Gunung Semeru, selebihnya kita akan melewati bukit pasir. Puncak semeru dari Kalimati
Dari Arcopodo menuju puncak Semeru diperlukan waktu 3-4 jam, melewati bukit pasir yang sangat curam dan mudah merosot. Semua barang bawaan sebaiknya kita tinggal di Arcopodo atau di Kalimati. Pendakian menuju puncak dilakukan pagi-pagi sekali sekitar pukul 02.00 pagi dari Arcopodo. Badan dalam kondisi segar, dan efektif dalam menggunakan air. Perjalanan pada siang hari medan yang dilalui terasa makin berat selain terasa panas juga pasir akan gembur bila terkena panas. Siang hari angin cendurung ke arah utara menuju puncak membawa gas beracun dari Kawah Jonggring Saloka.

Di puncak Gunung Mahameru (Semeru) pendaki disarankan untuk tidak menuju kawah Jonggring Saloko, juga dilarang mendaki dari sisi sebelah selatan, karena adanya gas beracun dan aliran lahar. Suhu dipuncak Mahameru berkisar 4 – 10 derajad Celcius, pada puncak musim kemarau minus 0 derajad Celcius, dan dijumpai kristal-kristal es. Cuaca sering berkabut terutama pada siang, sore dan malam hari. Angin bertiup kencang, pada bulan Desember – Januari sering ada badai.
Terjadi letusan Wedus Gembel setiap 15-30 menit pada puncak gunung Semeru yang masih aktif. Pada bulan Nopember 1997 Gn.Semeru meletus sebanyak 2990 kali. Siang hari arah angin menuju puncak, untuk itu hindari datang siang hari di puncak, karena gas beracun dan letusan mengarah ke puncak.

Letusan berupa asap putih, kelabu sampai hitam dengan tinggi letusan 300-800 meter. Materi yang keluar pada setiap letusan berupa abu, pasir, kerikil, bahkan batu-batu panas menyala yang sangat berbahaya apabila pendaki terlalu dekat. Pada awal tahun 1994 lahar panas mengaliri lereng selatan Gn.Semeru dan meminta beberapa korban jiwa, pemandangan sungai panas yang berkelok- kelok menuju ke laut ini menjadi tontonan yang sangat menarik.
Pendakian sebaiknya dilakukan pada musim kemarau yaitu bulan Juni, Juli, Agustus, dan September. Sebaiknya tidak mendaki pada musim hujan karena sering terjadi badai dan tanah longsor.


JALUR GUNUNG AYEK-AYEK
Dari desa Ranu Pane perjalanan dimulai dengan melintasi kebun sayuran penduduk yang berupa tanaman bawang dan kol (kubis). Melintasi kawasan kebun sayuran di siang hari terasa panas dan berdebu sehingga akan lebih baik jika pendaki mengenakan kacamata dan masker penutup hidung. Ranu Pane adalah salah satu desa yang dihuni oleh masyarakat suku Tengger, selain desa Ngadas, Cemoro Lawang, Ngadisari, dll. Masyarakat Tengger hidup dengan menanam sayur-sayuran.
Di desa Ranu Pane ini air bersih diperoleh dari kran-kran yang di salurkan ke rumah penduduk di siang hari dengan volume air yang sangat kecil. Sehingga di pos pendakian Ranu Pane kadangkala tidak terdapat air bersih di siang hari, namun di malam hari air bersih di pos pendakian berlimpah karena aliran ke rumah penduduk di hentikan di malam hari.
Selanjutnya akan dijumpai sebuah pondok yang dipakai untuk keperluan penghijauan gunung Semeru. Jalur agak landai dan sedikit berdebu melintasi kawasan hutan yang didominasi oleh tanaman penghijauan berupa akasi dan cemara gunung. Jalur selanjutnya mulai menanjak curam menyusuri salah satu punggungan gunung Ayek-ayek. Di sepanjang jalur ini kadangkala dapat ditemukan jejak-jejak kaki dan kotoran binatang. Burung dan aneka satwa seringkali terlihat berada disekitar jalur ini.
Mendekati puncak gunung Ayek-Ayek pohon cemara tumbuh agak berjauhan sehingga pendaki dapat melihat ke bawah ke arah desa ranu pane. Desa Ngadas juga nampak sangat jelas. Pendaki dapat beristirahat di celah gunung untuk berlindung dari hembusan angin. Di tempat ini pendaki juga bisa melihat dinding gunung tengger yang mengelilingi gunung Bromo, kadang kala terlihat kepulan asap yang berasal dari gunung Bromo.
Setelah melintasi celah gunung yang agak licin dan berbatu pendaki harus menyusuri sisi gunung Ayek-ayek agak melingkar ke arah kanan. Di samping kiri adalah jurang terbuka yang menghadap ke bukit-bukit yang ditumbuhi rumput, bila pendakian dilakukan di siang akan terasa sangat panas. Di kejauhan kita dapat menyaksikan puncak mahameru yang bersembunyi di balik gunung Kepolo, sekali-kali nampak gunung Semeru menyemburkan asap wedus gembel.
Jalur mulai menurun tetapi perlu tetap waspada karena rawan longsor. Tumbuhan yang ada berupa rumput dan cemara yag diselingin Edelweis. Masih dalam posisi menyusuri tebing terjal sekitar 30 menit kita akan tiba di tempat yang agak datar, celah yang cukup luas pertemuan dua gunung. Di sini pendaki dapat beristirahat sejenak melepaskan lelah. Beberapa tanaman Edelweis tumbuh cukup tinggi sehingga dapat digunakan untuk berteduh dari sengatan matahari.
Setelah puas beristirahat perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri tebing terjal yang agak melingkar ke arah kiri. Tumbuhan yang ada berupa rumput yang agak rapat dan tebal, beberapa pohon cemara tumbuh agak berjauhan di sepanjang jalur. Di sepanjang jalur ini pendaki tidak bisa saling mendahului sehingga harus berjalan satu persatu. Sekitar 30 menit menyusuri tepian tebing terjal akan tampak di depan kita bukit dan padang rumput yang sangat luas.
Sampailah kita di padang rumput yang sangat luas yang disebut Pangonan Cilik. Pemandangan di pagi hari dan sore hari di tempat ini sangat indah luar biasa, kita tidak akan bosan memandangi bukit-bukit yang ditumbuhi rumput. Padang rumput ini dikelilingin tebing-tebing yang ditumbuhi pohon cemara dan edelweis. Sekitar 45 menit melintasi padang rumput selanjutnya berbelok ke arah kiri maka sampailah kita di sebuah danau yang sangat luas yang disebut danau Ranu Kumbolo.

Secara umum iklim di wilayah gunung Semeru termasuk type iklim B (Schmidt dan Ferguson) dengan curah hujan 927 mm – 5.498 mm per tahun dengan jumlah hari hujan 136 hari/tahun dan musim hujan jatuh pada bulan Nopember – April. Suhu udara dipuncak Semeru berkisar antara 0 – 4 derajat celcius.

Flora yang berada di Wilayah Gunung Semeru beraneka ragam jenisnya tetapi banyak didominir oleh pohon cemara, Akasia, Pinus, dan jenis Jamuju. Sedangkan untuk tumbuhan bawah didominir oleh Kirinyuh, Alang – alang, Tembelekan, Harendong dan Edelwiss putin, Edelwiss yang banyak terdapat di lereng-lereng menuju Puncak Semeru. Dan juga ditemukan beberapa jenis anggrek endernik yang hidup di sekitar Semeru Selatan.

Banyak fauna yang menghuni gunung Semeru antara lain :Macan Kumbang, Budeng, Luwak, Kijang, Kancil, dll. Sedangkan di Ranu Kumbolo terdapat Belibis yang masih hidup liar.

Posted in Artikel Indonesia | Leave a comment

Gunung Merbabu

Gunung Merbabu adalah gunung api yang bertipe Strato (lihat Gunung Berapi) yang terletak secara geografis pada 7,5° LS dan 110,4° BT. Secara administratif gunung ini berada di wilayah Kabupaten Magelang di lereng sebelah barat dan Kabupaten Boyolali di lereng sebelah timur, Propinsi Jawa Tengah.

Gunung ini pernah meletus pada tahun 1560 dan 1797. Dilaporkan juga pada tahun 1570 pernah meletus, akan tetapi belum dilakukan konfirmasi dan penelitian lebih lanjut. Puncak gunung Merbabu berada pada ketinggian 3.145 meter di atas permukaan air laut.

Gunung Merbabu cukup populer sebagai ajang kegiatan pendakian. Medannya tidak terlalu berat namun potensi bahaya yang harus diperhatikan pendaki adalah udara dingin, kabut tebal, hutan yang lebat namun homogen (hutan tumbuhan runjung, yang tidak cukup mendukung sarana bertahan hidup atau survival), serta ketiadaan sumber air. Penghormatan terhadap tradisi warga setempat juga perlu menjadi pertimbangan.

Gunung Merbabu memiliki 3 tipe ekosistem hutan, yaitu : ekosistem hutan hujan tropis musim pengunungan bawah (1.000 – 1.500 m dpl), ekosistem hutan hujan tropis musim pegunungan tinggi (1.500 – 2.400 m dpl), dan ekosistem hutan tropis musim sub-alpin (2.400 – 3.142 m dpl).

Jalur Pendakian Merbabu

1. Jalur Pendakian Chuntel

Jalur pendakian ini terletak di Dusun Chuntel Desa Kopeng Kecamatan Getasan. Jalur ini adalah jalur yang cukup ramai karena mudah dijangkau dari kota Salatiga, Semarang dan Magelang. Rata-rata dilalui oleh 80 pendaki setiap bulan, dan di musim liburan mencapai 600 pendaki.

Sarana dan prasarana di Jalur Pendakian Chuntel meliputi: base camp di rumah penduduk dan jalur pendakian berupa jalan tanah dengan beberapa penunjuk arah.

Jarak dan waktu tempuh :

  • Basecamp – Pos Bayangan I = 1 km (20menit)
  • Pos Bayangan I – Pos Bayangan II = 1 km (30menit)
  • Pos Bayangan II – Pos I = 456 m (20menit)
  • Pos I – Pos II = 527 m (30menit)
  • Pos II – Pos III = 506 m (30menit)
  • Pos III – Pos IV = 1389 m (90menit)
  • Pos IV – Persimpangan = 1 km (60menit)
  • Persimpangan – Pnck.Sarip = 200 m (15menit)
  • Persimpangan – Pnck.Kenteng Songo = 450 m (30menit)

standar yang dipakai adalah standar pendaki pada umumnya.

Obyek menarik :

Pos Pemancar atau sering juga di sebut gunung Watu Tulis berada di ketinggian 2.896 mdpl. Di puncaknya terdapat stasiun pemancar relay. Di Pos ini banyak terdapat batu-batu besar sehingga dapat digunakan untuk berlindung dari angin kencang. Namun angin kencang kadang datang dari bawah membawa debu-debu yang beterbangan.

Dari lokasi ini pemandangan ke arah bawah sangat indah, tampak di kejauhan Gunung Sumbing dan Gunung Sundoro, tampak Gunung Ungaran di belakang Gunung Telomoyo.

2. Jalur Pendakian Wekas

Wekas merupakan jalur pendakian yang ramai, karena aksesibilitasnya mudah dijangkau dari kota Magelang dan Yogyakarta. Rata-rata dilalui oleh 70 pendaki setiap bulannya, di musim liburan mencapai 500 pendaki.

Sarana dan prasarana di Jalur Pendakian Wekas meliputi base camp di rumah penduduk dan jalur pendakian berupa jalan tanah dengan beberapa penunjuk arah.

3. Jalur Pendakian Selo

Jalur pendakian ini terletak di Dusun Tarubatang Desa Selo Kecamatan Selo. Seperti Chuntel, jalur Selo juga cukup ramai karena mudah dijangkau dari kota Solo, Boyolali, Muntilan, dan sekitarnya. Rata-rata dilalui oleh 50 orang pendaki setiap bulannya, dan di musim liburan/event khusus mencapai 300 pendaki.

Sarana dan prasarana di jalur Selo meliputi base camp di rumah penduduk, pos retribusi pendakian, dan jalur pendakian berupa tanah dengan beberapa penunjuk arah.

4. Jalur Pendakian Candisari

Jalur Candisari terlelak di Dusun Candilaras Desa Candisari Kecamatan Ampel. Jalur ini biasanya dilalui oleh para peziarah, kurang ramai dengan rata-rata pendaki 8 orang setiap bulan dan pada musim libur/event khusus mencapai 50 pendaki.

Sarana dan prasarana di Jalur Pendakian Candisari meliputi base camp di rumah penduduk dan jalur pendakian berupa jalan tanah dengan beberapa penunjuk arah.

5. Jalur Pendakian Tekelan

Tekelan merupakan jalur pendakian ramai, karena mudah dijangkau dari kota Salatiga, Semarang, dan Magelang. Rata-rata dilalui oleh 60 pendaki setiap bulan, di musim liburan mencapai 500 pendaki.

Posted in Artikel Indonesia | Leave a comment