Sekilas Survival – Tindakan Pada Situasi Survival

 

Survival adalah tindakan yang paling awal bagi makhluk hidup untuk mempertahankan hidupnya dari berbagai ancaman.
Survive berarti mampu bertahan hidup dan lolos dari kondisi tidak menentu.

Survivor adalah individu atau sekelompok orang yang berusaha mempertahankan hidup pada kondisi tidak
menentu yang tidak dapat diduga sebelumnya.

Kepanjangan SURVIVAL :
S : Sadarilah dimana kamu berada
U : Untung rugi ada di tangan sendiri
R : Rasa takut dihilangkan
V : VIVA, hargailah hidup
I : Ingatlah dimana kamu berada
V : VACUM, isilah kekosongan
A : Adat istiadat dihormati dan dijaga
L : Latihlah dirimu selalu

Penyebab seseorang melakukan survival :
1. Kehabisan kelengkapan dari suatu perjalanan
2. Kecelakaan dalam suatu perjalanan
3. Tersesat di suatu daerah asing
4. Lingkungan suatu daerah yang belum dikenal
5. Kekurangan pangan, kekurangan oksigen, dan lain-lain

Dalam menghadapi situasi yang sulit berusahalah untuk tenang, istirahatlah yang cukup, perhatikan kondisi tubuh
dan ingatlah pedoman :
S : Stop, berhenti
T : Thinking, mulailah berpikir
O : Observe, amati keadaan sekeliling
P : Planning, buat rencana mengenai tindakan / usaha yang akan dilakukan

Tindakan yang dilakukan dalam situasi survival :
1. Mencari Tempat Berlindung
Kenyamanan tempat berlindung dapat mempengaruhi kondisi survivor.
Hal- hal yang harus diperhatikan dalam mencari dan membangun tempat berlindung atau Bivoac :
1. Di atas tanah yang padat dan tidak berlumpur
2. Jangan berada di dekat pohon yang lapuk
3. Jangan di daerah lintasan binatang
4. Usahakan menghindari hembusan angin secara langsung terutama daerah tikungan
5. Usahakan dekat dengan sumber air
6. Perhatikan keadaan medan, seperti tanah longsor,dan lain-lain
7. Jangan bermalam di sungai kering

2. Mencari Air / Minum
Yang harus diperhatikan dalam mencari air :
1. Warna, jika warnanya jernih / bening dan airnya mengalir, air tersebut dapat langsung diminum.Jika air sudah berbau dan warnanya gelap walaupun mengalir, air tersebut tidak dapat diminum karena mengandung unsur logam.
2. Temperatur, jika di daerah gunung berapi, sumber air terasa panasmaka jangan diminum karena mengandung kadar belerang tinggi, tetapi kalau airnya dingin bisa digunakan untuk memasak.
3. Asin, jangan terlalu banyak minum air yang mengandung garam, mengingat akan sifat garam yang akan menarik keluar air atau cairan di dalam tubuh (dehidrasi).

3. Mencari Makanan
Di saat seorang survivor sudah tidak memiliki persediaan makanan lagi, maka Ia harus mencari makanan yang berada di sekitarnya. Makanan tersebut dapat berupa tumbuhan maupun binatang, Tetapi tidak semua tumbuhan dan hewan dapat kita makan.
Yang harus diperhatikan dalam mencari makanan :
1. Menjilat, jika terasa asing dilidah tumbuhan atau buah terebut tidak dapat dimakan.
2. Melihat warna, jika warnanya terlalu menyolok jangan dimakan.
3. Dengan mengolesnya di kulit, apabila menimbulkan rasa panas atau gatal maka tumbuhan atau buah tersebut sebaiknya jangan dimakan.
4.Tumbuhan yang hidup terisolir biasanya beracun
5.Dapat mengikuti apa yang dimakan oleh burung dan binatang menyusui lainnya serta jenis rodentsia seperti tikus, marmut, atau musang.

4. Membuat Api
Jika anda berada dalam kondisi survive, membuat api juga tidak kalah pentingnya,dikarenakan api bisa untuk menghangatkan tubuh,memasak serta menghindari gangguan dari binatang buas.
Cara-cara membuat api :
1. Bantuan sinar matahari
Pakailah lensa cembung, dimana titik api mengenai bahan penyala api. Lensa dapat berupa kaca pembesar.Lensa dapat berupa kaca pembesar, lensa kamera, lensa teropong, teleskop. Namun hal ini jarang digunakan karena di dalam hutan tropis jarang tertembus sinar matahari kecuali di daerah padang pasir.
2. Gesekan bambu dengan bambu
Bambu penggosok harus lebih panjangdaripada bambu yang akan digosok, yang dipakai bagian kulit luarnya saja. Gosokkan yang berkedudukan vertical menjadi panas dan segera di letakkan bahan penyala api.
3. Batu api
Dengan cara dua buah batu digesekkan sehingga menghasilkan percikan api, Tetapi hal ini jarang digunakan karena menguras tenaga.
4. Busur dan gurdi
Buat busur yang kuat dengan menggunakan tali sepatu atau tali lain, gurdikan kayu keras pada kayu yang lainnya hingga panas dan terlihat asap lalu berikan bahan penyala api, seperti serutan batang kayu, daun kering, dan lain-lain.

This entry was posted in Artikel Indonesia. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s